Entah sudah berapa kali terjadi perang batu antara mahasiswa dan polisi, antara mahasiswa dengan mahasiswa. Demonstrasi yang awalnya bertujuan baik dengan isu mendesak usut tuntas kasus Bank Century, usut tuntas kasus korupsi di Indonesia, menolak pelanggaran HAM, dan meminta pihak intelektual kawal penyelesaian kasus-kasus yang ada, merupakan isu yang populis bagi masyarakat bukan hanya di Makassar tetapi di seluruh Indonesia. Karena itulah yang kita harapkan, terwujudnya supremasi hukum yang adil di bangsa ini.
Tetapi sayang niat baik apabila dilaksanakan dengan cara yang kurang baik, malah sebaliknya akan mendapatkan antipati dari masyarakat. Pemblokiran jalan, membakar ban bekas, dan menyandera mobil tangki malah menimbulkan kerugian dan kesulitan bagi masyarakat. Anarkisme demonstrasi kembali mencederai wajah demokrasi bangsa. Kembali menambah daftar panjang catatan buruk demonstrasi di Makassar. Apakah Makassar tidak bisa melakukan demonstrasi yang damai dan santun?
Di kalangan aktivis dulu ada anekdot kalau kita demo puluhan orang, maka kita akan ditangkap oleh polisi. Kalau demonya ratusan orang maka akan dijaga ketat oleh polisi. Dan kalau yang demo ribuan orang maka polisi akan bergabung dengan demonstran, sebagaimana yang terjadi pada demo 98. Melihat isu yang diusung oleh teman-teman mahasiswa saat ini, seperti saya katakan di awal tentunya akan mendapat dukungan dari masyarakat, tetapi dengan cara yang dilakukan maka jangankan mendapatkan dukungan massa sampai ribuan orang, ratusan pun mungkin sulit tercapai.
Menurut hemat saya perlu ada perubahan dan perbaikan dalam melaksanakan demonstrasi di Makassar ini. Apabila ingin mendapatkan perhatian dari massa agar isunya dapat diangkat oleh media nasional, mengapa tidak dilakukan dengan melakukan happening art yang menarik. Saya teringat, dulu berkali-kali melakukan penampilan teater di jalanan ketika melakukan demonstrasi dan setiap pertunjukan tersebut diliput oleh media. Atau mungkin melakukan demonstrasi dengan cara lain yang kreatif dan menarik simpati masyarakat.
Karena dengan melakukan demonstrasi yang anarkis telah memperburuk citra kota Makassar. Turis menjadi tidak tertarik untuk berkunjung ke Makassar sehingga berdampak pada pariwisata kota Makassar. Citra mahasiswa Makassar di mata beberapa perusahaan pun menjadi buruk, sehingga tidak sedikit perusahaan yang menolak mempekerjakan mahasiswa Makassar di perusahaannya.
Pada akhirnya dampak dari demonstrasi itu berdampak buruk juga bagi mahasiswa sendiri, belum menghitung kerusakan-kerusakan yang timbul. Kemanakah budaya siri’ na pacce’ mahasiswa Makassar? Atau jangan-jangan telah terjadi pergeseran pemahaman terhadap makna dari siri’ na pacce tersebut?
Siri’ atau malu adalah malu yang erat dengan harkat, martabat, kehormatan dan harga diri sebagai seorang manusia. Dalam konteks tulisan ini adalah siri’ ketika kita sebagai warga Makassar dikenal sebagai orang yang “pa’bambangan na toloa”. Siri’ karena bukannya membangun bangsa tetapi malah merusak bangsa.
Pacce’ adalah perasaan solidaritas yang terbit dari dalam kalbu yang dapat merangsang kepada suatu tindakan. Dalam konteks tulisan ini saya memaknai pacce’ sebagai rasa solidaritas kita terhadap permasalahan yang menimpa bangsa kita ini. Hendaknya ketika kita melihat sebuah permasalahan bangsa kita dapat memberikan solusi yang konstruktif bukannya malah menimbulkan permasalahan baru.
Pada akhirnya saya mengajak kepada seluruh mahasiswa di Indonesia khususnya di Makassar untuk memberikan solusi yang konstruktif bagi setiap permasalahan bangsa. Mari ciptakan ruang-ruang kreatif dalam berdemonstrasi sehingga terwujud demonstrasi yang bermoral dan beretika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar