Rabu, 31 Oktober 2012

Saya Optimis dengan Bangsa Ini


SAYA OPTIMIS DENGAN BANGSA INI

Kalimat itu diucapkan oleh Presiden ke 44 Amerika Serikat, Barack Obama, ketika berkunjung ke Indonesia.

Mengenal figur Barack Obama, kita dapat melihat bahwa dia adalah orang yang visioner. Gambaran bahwa dia akan menjadi presiden telah diimpikannya semenjak ia bersekolah di SD Asisi Menteng Jakarta. Dan visinya itu menjadi kenyataan.

Sehingga menjadi pertanyaan besar ketika kita melihat bahwa Obama memandang optimis dengan kemajuan bangsa Indonesia, lantas kita yang notabene sebagai warga negara Indonesia dan bagian dari negara ini, mengapa tidak berpikiran yang sama? Mengapa terkadang sebagian dari kita menganggap bahwa negara kita ini sudah tidak bisa lebih baik?

Tentang Memaknai Amanah


Malam semakin larut tatkala badai dan angin topan menderu menyelimuti gelapnya malam. Angin yang berhembus menambah kedinginan suasana yang mencekam. Dalam kondisi kelaparan dan kedinginan tak seorang pun yang berkeinginan untuk berdiri dan menganjakkan kakinya.Itulah gambaran yang terjadi di masa perang Khandaq, Yaman di masa lalu.

Namun ketika sang manusia agung, Rasulullah SAW meminta kepada para sahabat dan menunjuk Hudzaifah, serta merta Hudzaifah pun berdiri dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

Dalam tugasnya tersebut Hudzaifah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengintai pergerakan dan kekuatan lawan. Tentunya bukan tanpa pertimbangan yang dalam Rasulullah memberikan amanah yang berat tersebut kepada Hudzaifah. Rasulullah memberikan amanah tersebut kepada Hudzaifah dengan melihat kualitas keimanan, intelektual dan keberanian dari Hudzaifah.

Tentang Belajar Menghargai


Pada kesempatan sebuah acara yang diselenggarakan oleh Ashoka di Jakarta, saya mengikuti satu sesi kelas yang diisi oleh Professor Yohanes Surya, di kesempatan tersebut beliau bercerita tentang bagaimana Ia memotivasi pelajar-pelajar di Papua agar mau belajar Fisika dan Matematika. Jujur, dua mata pelajaran ini terkadang menjadi pelajaran yang menjadi momok bagi kebanyakan siswa.

Apa yang ditawarkan Professor Yohanes Surya kepada pelajar Papua tersebut bukan uang tetapi yang Ia tanyakan adalah "Nak, apakah kamu ingin menjadi seperti dia?" sahut Professor sambil menunjukkan sebuah koran yang memuat profil pemenang Olimpiade Fisika-Matematika tingkat dunia dari Indonesia. Dengan motivasi itulah, akhirnya sang anak mengiyakan dan bersungguh-sungguh untuk belajar Fisika dan Matematika hingga akhirnya. Saat ini, tiga anak dari Tolikara sudah menjalani latihan. Mereka antara lain adalah  Wemi Jikwa, Ali Kogoya, serta Merlin Enjelin Rosalina Kogoya. Apa yang ingin dibuktikan oleh Professor Yohanes Surya bahwa anak-anak Papua yang selama ini dianggap terbelakang dapat memberikan sebuah karya besar bagi bangsa.

PENGHARGAAN. Itulah kata kunci yang dipegang oleh Professor Yohanes Surya. Ia tidak menjanjikan kekayaan kepada para siswa di Papua, tetapi yang dijanjikan adalah penghargaan, bagaimana nama-nama mereka akan terpampang di koran-koran.

Senin, 29 Oktober 2012

KARENA SETIAP KITA ADALAH PENULIS


KARENA SETIAP KITA ADALAH PENULIS
Entah sejak kapan gw senang menulis? Mungkin berawal dari SMP, waktu ikut lomba karya tulis ilmiah. Waktu itu menulis tentang Peran Pramuka di Era Globalisasi dan dapat juara 1. Tetapi sebelum mendapat penghargaan itu butuh jalan panjang sebelumnya. Beberapa kali ikut lomba sinopsis seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Siti Nurbaya dan hasilnya gagal. Yup, semua butuh proses dan perjalanan. Berikut gw bagi ya beberapa tips untuk dapat menjadi penulis. Walaupun tulisan gw juga sebenarnya biasa-biasa aja :p tetapi semoga dapat bermanfaat

1. MEMBACA, MEMBACA DAN MEMBACA
Membaca menjadi sangat berperan bagi seorang penulis, karena dengan banyak membaca akan sangat membantu untuk menambah bendahara kosakata kita. Nggak lucu kan kalau tulisan kita banyak mengulang kata-kata yang serupa...mengulang kata-kata yang serupa...mengulang kata-kata yang serupa :p. (Halah)
Lagian dengan banyak membaca akan banyak ilmu yang bisa kita serap dan dibagi tentunya, jadi kalau gak bisa menjadi penulis, kita bisa menjadi narasumber atau gak jadi pembaca dongeng buat anak-anak.
Kebiasaan membaca udah gw mulai dari kecil mulai dari komik, koran bahkan sampe buku gambar senang gw baca. Mau bahas apa aja gw baca, kalau mau lebih detail iklan-iklan di koran juga bisa dibaca.

SERI KEPEMIMPINAN I: PEMIMPIN ADALAH PELAYAN BAGI YANG DIPIMPIN


Sesaat setelah saya mengirimkan seri kepemimpinan ini kepada teman-teman di bbm, ada yang merespon “Tetapi realita saat ini sebaliknya”. Apa yang dikatakan oleh kawan saya itu benar adanya, tetapi bukan hanya saat ini. Sejak zaman dahulu kala memang banyak yang menganggap sebaliknya, akhirnya lahirlah kisah-kisah kepemimpinan seperti Firaun, Hitler dan banyak pemimpin-pemimpin kelas dunia lain yang menganggap dirinya sebagai penguasa. Bukan berarti pula bahwa kepemimpinan Firaun dan Hitler salah, karena buktinya mereka punya banyak pengikut. Tetapi dengan Anda menjadi pemimpin yang bisa menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya, maka yakinlah orang-orang yang dipimpin akan lebih mendengarkan Anda dan mencintai Anda.

Saya mencoba mengambil contoh pada tiga tokoh pemimpin yang saya kagumi. Pertama, Muhammad. Lihatlah bagaimana Muhammad, sang Rasul, memimpin umatnya. Beliau tidak segan untuk memberi makan kepada orang buta yang bahkan orang buta itu sendiri membencinya tetapi tidak pernah mengetahui bahwa yang memberi makan dan menyuap langsung adalah Muhammad.

Tentang Hidup


Ada banyak cerita, hikmah atau inspirasi yang bisa kita dapatkan dari perjalanan hidup kita. Berikut nilai-nilai yang saya peroleh dari perjalanan hidup saya, semoga bermanfaat :)