Malam semakin larut tatkala badai dan angin topan menderu menyelimuti gelapnya malam. Angin yang berhembus menambah kedinginan suasana yang mencekam. Dalam kondisi kelaparan dan kedinginan tak seorang pun yang berkeinginan untuk berdiri dan menganjakkan kakinya.Itulah gambaran yang terjadi di masa perang Khandaq, Yaman di masa lalu.
Namun ketika sang manusia agung, Rasulullah SAW meminta kepada para sahabat dan menunjuk Hudzaifah, serta merta Hudzaifah pun berdiri dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
Dalam tugasnya tersebut Hudzaifah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengintai pergerakan dan kekuatan lawan. Tentunya bukan tanpa pertimbangan yang dalam Rasulullah memberikan amanah yang berat tersebut kepada Hudzaifah. Rasulullah memberikan amanah tersebut kepada Hudzaifah dengan melihat kualitas keimanan, intelektual dan keberanian dari Hudzaifah.
Bukan hal yang mudah bagi Hudzaifah untuk menjalankan amanah tersebut mengingat bahwa ia harus melakukannya dalam keadaan lapar dan timpaan hujan badai, serta keadaan fisik yang melemah dan kelaparan akibat dikepung selama satu bulan atau lebih oleh orang-orang musyrik.
Setiba di perkemahan musuh, berkat bantuan Allah SWT, Hudzaifah berhasil menyelinap dan bergabung dengan musuh tanpa diketahui keberadaannya. Dalam kesempatan itu Hudzaifah memiliki peluang besar untuk membunuh Abu Sufyan, tetapi Hudzaifah menggambarkan: “Kalau tidaklah pesan Rasulullah SAW kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya lebih dahulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah”.
Penggalan kisah tersebut memberi beberapa pelajaran yang dapat kita serap terkait tentang arti sebuah amanah. Pertama, bagaimana Hudzaifah tidak meminta-minta amanah walaupun ia memiliki kapasitas untuk menjalankan amanah tersebut. Kedua, walaupun dalam kondisi berat Hudzaifah dengan semangat dan keberaniannya menjalankan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Ketiga, Hudzaifah menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Bisa saja ia berinisiatif untuk membunuh Abu Sufyan pada malam itu dan menasbihkan dirinya sebagai seorang pahlawan. Tetapi ia memilih untuk melaksanakan tugas sebagaimana perintah yang ia peroleh.
Dalam kondisi kekinian, tidak sedikit dari kita yang terkadang berebut untuk mendapatkan sebuah posisi dan bahkan terkadang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Dan setelah mendapatkan posisi tersebut tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana yang diamanahkan. Tidak sedikit pula dari kita yang menolak sebuah amanah dengan alasan tidak sanggup, tidak mampu atau alasan lainnya, padahal kita pada dasarnya telah diberi potensi yang besar oleh Allah SWT untuk menjadi seorang pemimpin. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. (QS.2:30)
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kesabaran bagi kita para pengemban amanah. Apapun amanah kita itu, sebagai pekerja, mahasiswa, pelajar, dosen, guru, anggota dewan, walikota, gubernur ataupun presiden. Semoga kita dapat meneladani sepenggal kisah dari Hudzaifah dan melaksanakan amanah kita dengan sebaik-baiknya.
Wallahu a’lam bisshawab. Selamat bekerja dan selamat melaksanakan amanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar