Pada kesempatan sebuah acara yang diselenggarakan oleh Ashoka di Jakarta, saya mengikuti satu sesi kelas yang diisi oleh Professor Yohanes Surya, di kesempatan tersebut beliau bercerita tentang bagaimana Ia memotivasi pelajar-pelajar di Papua agar mau belajar Fisika dan Matematika. Jujur, dua mata pelajaran ini terkadang menjadi pelajaran yang menjadi momok bagi kebanyakan siswa.
Apa yang ditawarkan Professor Yohanes Surya kepada pelajar Papua tersebut bukan uang tetapi yang Ia tanyakan adalah "Nak, apakah kamu ingin menjadi seperti dia?" sahut Professor sambil menunjukkan sebuah koran yang memuat profil pemenang Olimpiade Fisika-Matematika tingkat dunia dari Indonesia. Dengan motivasi itulah, akhirnya sang anak mengiyakan dan bersungguh-sungguh untuk belajar Fisika dan Matematika hingga akhirnya. Saat ini, tiga anak dari Tolikara sudah menjalani latihan. Mereka antara lain adalah Wemi Jikwa, Ali Kogoya, serta Merlin Enjelin Rosalina Kogoya. Apa yang ingin dibuktikan oleh Professor Yohanes Surya bahwa anak-anak Papua yang selama ini dianggap terbelakang dapat memberikan sebuah karya besar bagi bangsa.
PENGHARGAAN. Itulah kata kunci yang dipegang oleh Professor Yohanes Surya. Ia tidak menjanjikan kekayaan kepada para siswa di Papua, tetapi yang dijanjikan adalah penghargaan, bagaimana nama-nama mereka akan terpampang di koran-koran.
In my humble opinion, nilai itulah yang saat ini sedang tergerus pada diri masyarakat Indonesia. Kita tidak belajar menghargai hasil karya orang lain, yang akhirnya pembajakan dan plagiat tumbuh mekar dimana-mana. Mulai dari lagu hingga karya tulis pun diplagiat. Kita tidak memberi sebuah apresiasi besar terhadap karya seseorang. Di malaysia sebagai contoh, gaji pegawai paling rendah adalah RM 1200 untuk sebuah pekerjaan asisten rumah tangga setara dengan Rp. 3.600.000,- itulah wujud penghargaan terhadap kerja mereka. Tidak heran mengapa banyak dari TKW kita yang memilih untuk bekerja di sana.
Hal yang serupa coba dibangun oleh Mark Zuckerberg melalui Facebook dengan mencantumkan opsi Like pada status seseorang. Sehingga ketika kita senang kita bisa me-like status tersebut. Hal itu menjadi sebuah pembelajaran untuk menghargai opini atau pendapat seseorang. Demikian juga dengan opsi membagikan, secara otomatis ketika kita membagi akan menautkan nama orang sebelumnya. Semoga dengan semakin maraknya pengguna Facebook di Indonesia menjadikan kebudayaan menghargai yang coba dikemas oleh facebook ini dapat menumbuhkan kembali nilai-nilai tersebut di tengah-tengah masyarakat kita.
Ketika kita bisa menghargai hasil karya seseorang maka kita pun akan semakin dihargai. Tidak ada salahnya mencantumkan nama mereka yang telah memberi kita inspirasi. Semoga tulisan ini dapat menggugah kepedulian kita untuk belajar menghargai dan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.
Silahkan disebar jika berkenan, baik mencantumkan nama saya ataupun tidak. Mari kita bersama-sama membangun kembali budaya menghargai di negara tercinta kita ini. Terima kasih, selamat berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar